Search
Archives

Yuni Asnidar / A44100033 / Laskar 4

  1. Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Saat Ramadhan tahun 2010, saya mengalami sakit dalam beberapa hari. Saat itu kebetulan saya telah berada di asrama TPB-IPB, awalnya saya merasa tidak sanggup untuk menghadapinya karena untuk pertama kalinya saya merasakan sakit di bulan Ramadhan dan juah dari orang tua. Namun saya bertekad untuk tetap bertahan sampai saya bertemu orang tua saya. Saya pun sanagat bersyukur karena teman-teman saya di asrama selalu memberi saya dukungan dan perhatian selama saya sakit.

Ketika saya mempunyai waktu untuk pulang ke rumah, saya meminta kepada ibu saya untuk mengantar saya ke dokter. Saat itu saya dan ibu saya pergi ke dokter umum selepas maghrib, dan kami harus merelakan untuk tidak mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid. Jarak rumah kami ke dokter tersebut cukup jauh jika dilewati dengan berjalan kaki, namun cukup dekat jika dilewati dengan kendaraan. Ketika pergi, kami menggunakan angkutan umum.

Setelah selesai diperiksa oleh dokter dan menebus obat, kami pun pulang. Namun saya meminta kepada ibu saya untuk berjalan kaki saja saat pulang ke rumah. Kebetulan kami memang ingin membeli sesuatu di minimarket yang jaraknya tidak jauh dari tempat praktek dokter kami tadi. Jadi, ibu saya menyetujui agar kami pulang dengan berjalan kaki. Saat itu, keadaan saya sudah agak membaik, walau masih terasa sakit yang saya derita.

Ternyata perjalan pulang waktu itu memberikan saya pelajaran yang sangat berharga. Saat kami melewati sebuah rumah besar, di trotoarnya (rumah itu terletak di pinggir jalan, kami berjalan di sepanjang tepi jalan) duduk tiga orang anak kecil yang sedang memegang karung-karung dengan pakaian dan keadaan yang lusuh dan memprihatinkan. Bahkan ketika kami mendekat, ternyata ada lagi seorang anak yang paling kecil tengah tertidur pulas di trotoar itu. Kami sangat miris melihatnya. Betapa kurang beruntungnya mereka, seharusnya anak-anak seumuran mereka ada di dalam rumah dengan kedua orang tuanya dan menikmati hangatnya suasana keluarga. Tapi mereka harus bekerja dengan memulung barang bekas hingga malam hari. Kami tidak tahu dimana rumah mereka dan orang tua mereka, karena kami iba dan kebetulan kami mempunyai uang lebih, akhirnya kami memberikan beberapa lemnar uang pada mereka. Saya merasa malu, karena saya suka bermanja-manja pada orang tua, seperti saat sedang sakit itu, tapi ternyata masih banyak anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka. Mereka harus bekerja, mungkin untuk bermanja-manaj pada orang tua saja mereka tidak bisa. Hal ini membuat saya sadar bahwa kita harus banyak bersyukur, bagaimanapun keadaan kita.

Pelajaran berharga itu tidak berhenti sampai disitu. Ketika kami mulai memasuki gang rumah kami, saya melihat dua orang pria yang sedang berjalan perlahan di depan kami (saat itu habis hujan dan keadaan jalan banyak lubang sehingga banyak kubangan air dan kedua pria itu berusaha menghindari kubangan-kubangan air itu) dengan berdempetan dan saling berpegangan tangan. Awalnya saya merasa kurang suka melihatnya, karena saya berpikir dua orang pria yang berjalan saling berdempetan dan berpegangan tangan di malam hari  adalah pemandangan yang bisa menimbulkan pikiran-pikiran negative. Tetapi saya merasa sangat malu untuk kedua kalinya, ketika kami berjalan melewati mereka yang berjalan perlahan itu, saya melihat mereka dari depan dan ternyata kedua pria itu adalah penyandang tuna netra. Seketika saya beristighfar dalam hati, saya telah suudzan pada dua orang pria yang sedang saling membantu untuk bisa berjalan dengan baik. Mereka saling berpegangan dan jalan berdempetan di gelapnya malam dan berusaha untuk menghindari kubangan-kubangan air. Mereka begitu karena hanya satu orang yang membawa tongkat.

Saat itu saya merasa saya harus lebih banyak bersyukur dalam keadaan apapun, termasuk saat saya sedang sakit seperti waktu itu. Awalnya saya merasa banyak mengeluh saat sakit, tapi setelah melihat yang ada sepanjang  perjalan pulang dari dokter tersebut, saya merasa malu dan berdosa. Betapa banyaknya orang-orang yang kurang beruntung dan mereka tidak mudah menyerah dalam menghadapi hidup ini. Sedangkan saya yang baru mengalami sakit yang sebernarnya tidak terlalu parah, terlalu banyak mengeluh dan ingin bermanja-manja. Karena itu saya merasa perjalanan saya tadi telah menyadarkan saya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan selalu melihat sekeliling kita bahwa masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita.

  1. Cerita Inspirasi Berkenaan dengan Orang Lain

Seorang anak bernama Annisa, sedang pergi berbelanja bersama ibunya. Saat sedang di kasir, Annisa melihat sebuah kalung mutiara putih yang cantik. Ketika ia melihat dari dekat, tertera harga Rp 15.000,00. Memang, itu adalah kalung mutiara palsu. Ia pun meminta pada ibunya agar dibelikan kalung itu. Namun Annisa telah membeli sepasang kaus kaki bermotif bendera yang cantik. Setiap berbelanja, Annisa dan ibunya selalu berkomitmen agar tidak membeli barang-barang berlebihan. Jadi saat Annisa meminta pada ibunya untuk dibelikan kalung itu, ibunya mengatakan bahwa Annisa harus menaruh kaus kaki itu kembali, dan ia pun diizinkan untuk membeli kalung itu. Karena Annisa sangat ingin memiliki kalung itu, Annisa pun menuruti kata ibunya.

Annisa sangat senang dibelikan kalung mutiara itu.  Karena itu, ia pun selalu mamakianya setiap hari. Tapi ia juga selalu diingatkan oleh ibunya, bahwa jika ia memakai kalung itu setiap hari, termasuk saat mandi, lehernya akan berwarna hijau karena kalung itu adalah mutiara palsu. Tapi Annisa tidak peduli, ia sudah terlanjur sayang pada kalung itu. Ia tetap memakainya setiap waktu.

Suatu hari, Ayahnya baru pulang bekerja dan menghampiri Annisa. Ia menanyakan pada Annisa apakah ia sayang pada ayahnya. Annisa pun menjawab ia saying pada ayahnya. Lalu ayahnya meminta kalung mutiara kesayangan Annisa untuk membuktikan rasa sayangnya, tapi Annisa tidak mau memberinya. Annisa malah menganjurkan ayahnya untuk mengambil boneka panda kesayangan Annisa juga. Ayahnya pun menurutinya. Ayahnya melakukan hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut, dan Annisa selalu tidak memperbolehkan ayahnya untuk mengambil kalungnya. Ia selalu menganjurkan ayahnya untuk mengambil barang-barang kesayangan Annisa yang lain. Ia sudah sangat menyayangi kalung mutiara palsunya itu. Walaupun leher Annisa juga telah berwarna kehijauan karena kalung itu. Tapi karena ia telah banyak mengorbankan barang-barang kesukaannya yang lain, ia pun menjadi sedih.

Sampai pada suatu hari, ketika ayah masuk ke kamar Annisa, ayahnya melihat Annisa sedang menangis di tepi tempat tidurnya. Ayahnya pun mendekatinya, seperti sudah mengerti Annisa pun mengatakan bahwa akhirnya ayahnya boleh mengambil kalung imitasi kesayangannya itu. Ayahnya pun mengambil kalung imitasi itu dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Lalu ayahnya mengambil sesuatu dari saku yang satunya lagi dan memberikannya pada Annisa. Ketika dibuka tangannya, Annisa melihat sebuah kalung mutiara yang sama persis dengan kalung imitasi kesayangannya dulu. Ayahnya pun mengatakan bahwa kalung mutiara yang beru diberikan pada Annisa itu adalah kalung untuk menggantikan kalung yang dulu, yang dapat membuat lehernya menjadi hijau karena palsu. Tapi kalung yang baru ini adalah kalung mutiara asli.

Demikianlah, sama halnya dengan Tuhan. Terkadang Dia meminta sesuatu kepada kita untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun terkadang kita bersikap seperti atau lebih dari   Annisa, terlalu menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga dan oleh karenanya kita jadi tidak ikhlas bila harus kehilangannya.

Yuni Asnidar / A44100033 / Laskar 4

  1. Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Saat Ramadhan tahun 2010, saya mengalami sakit dalam beberapa hari. Saat itu kebetulan saya telah berada di asrama TPB-IPB, awalnya saya merasa tidak sanggup untuk menghadapinya karena untuk pertama kalinya saya merasakan sakit di bulan Ramadhan dan juah dari orang tua. Namun saya bertekad untuk tetap bertahan sampai saya bertemu orang tua saya. Saya pun sanagat bersyukur karena teman-teman saya di asrama selalu memberi saya dukungan dan perhatian selama saya sakit.

Ketika saya mempunyai waktu untuk pulang ke rumah, saya meminta kepada ibu saya untuk mengantar saya ke dokter. Saat itu saya dan ibu saya pergi ke dokter umum selepas maghrib, dan kami harus merelakan untuk tidak mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid. Jarak rumah kami ke dokter tersebut cukup jauh jika dilewati dengan berjalan kaki, namun cukup dekat jika dilewati dengan kendaraan. Ketika pergi, kami menggunakan angkutan umum.

Setelah selesai diperiksa oleh dokter dan menebus obat, kami pun pulang. Namun saya meminta kepada ibu saya untuk berjalan kaki saja saat pulang ke rumah. Kebetulan kami memang ingin membeli sesuatu di minimarket yang jaraknya tidak jauh dari tempat praktek dokter kami tadi. Jadi, ibu saya menyetujui agar kami pulang dengan berjalan kaki. Saat itu, keadaan saya sudah agak membaik, walau masih terasa sakit yang saya derita.

Ternyata perjalan pulang waktu itu memberikan saya pelajaran yang sangat berharga. Saat kami melewati sebuah rumah besar, di trotoarnya (rumah itu terletak di pinggir jalan, kami berjalan di sepanjang tepi jalan) duduk tiga orang anak kecil yang sedang memegang karung-karung dengan pakaian dan keadaan yang lusuh dan memprihatinkan. Bahkan ketika kami mendekat, ternyata ada lagi seorang anak yang paling kecil tengah tertidur pulas di trotoar itu. Kami sangat miris melihatnya. Betapa kurang beruntungnya mereka, seharusnya anak-anak seumuran mereka ada di dalam rumah dengan kedua orang tuanya dan menikmati hangatnya suasana keluarga. Tapi mereka harus bekerja dengan memulung barang bekas hingga malam hari. Kami tidak tahu dimana rumah mereka dan orang tua mereka, karena kami iba dan kebetulan kami mempunyai uang lebih, akhirnya kami memberikan beberapa lemnar uang pada mereka. Saya merasa malu, karena saya suka bermanja-manja pada orang tua, seperti saat sedang sakit itu, tapi ternyata masih banyak anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka. Mereka harus bekerja, mungkin untuk bermanja-manaj pada orang tua saja mereka tidak bisa. Hal ini membuat saya sadar bahwa kita harus banyak bersyukur, bagaimanapun keadaan kita.

Pelajaran berharga itu tidak berhenti samapai disitu. Ketika kami mulai memasuki gang rumah kami, saya melihat dua orang pria yang sedang berjalan perlahan di depan kami (saat itu habis hujan dan keadaan jalan banyak lubang sehingga banyak kubangan air dan kedua pria itu berusaha menghindari kubangan-kubangan air itu) dengan berdempetan dan saling berpegangan tangan. Awalnya saya merasa kurang suka melihatnya, karena saya berpikir dua orang pria yang berjalan saling berdempetan dan berpegangan tangan di malam hari  adalah pemandangan yang bisa menimbulkan pikiran-pikiran negative. Tetapi saya merasa sangat malu untuk kedua kalinya, ketika kami berjalan melewati mereka yang berjalan perlahan itu, saya melihat mereka dari depan dan ternyata kedua pria itu adalah penyandang tuna netra. Seketika saya beristighfar dalam hati, saya telah suudzan pada dua orang pria yang sedang saling membantu untuk bisa berjalan dengan baik. Mereka saling berpegangan dan jalan berdempetan di gelapnya malam dan berusaha untuk menghindari kubangan-kubangan air. Mereka begitu karena hanya satu orang yang membawa tongkat.

Saat itu saya merasa saya harus lebih banyak bersyukur dalam keadaan apapun, termasuk saat saya sedang sakit seperti waktu itu. Awalnya saya merasa banyak mengeluh saat sakit, tapi setelah melihat yang ada sepanjang  perjalan pulang dari dokter tersebut, saya merasa malu dan berdosa. Betapa banyaknya orang-orang yang kurang beruntung dan mereka tidak mudah menyerah dalam menghadapi hidup ini. Sedangkan saya yang baru mengalami sakit yang sebernarnya tidak terlalu parah, terlalu banyak mengeluh dan ingin bermanja-manja. Karena itu saya merasa perjalanan saya tadi telah menyadarkan saya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan selalu melihat sekeliling kita bahwa masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita.

  1. Cerita Inspirasi Berkenaan dengan Orang Lain

Seorang anak bernama Annisa, sedang pergi berbelanja bersama ibunya. Saat sedang di kasir, Annisa melihat sebuah kalung mutiara putih yang cantik. Ketika ia melihat dari dekat, tertera harga Rp 15.000,00. Memang, itu adalah kalung mutiara palsu. Ia pun meminta pada ibunya agar dibelikan kalung itu. Namun Annisa telah membeli sepasang kaus kaki bermotif bendera yang cantik. Setiap berbelanja, Annisa dan ibunya selalu berkomitmen agar tidak membeli barang-barang berlebihan. Jadi saat Annisa meminta pada ibunya untuk dibelikan kalung itu, ibunya mengatakan bahwa Annisa harus menaruh kaus kaki itu kembali, dan ia pun diizinkan untuk membeli kalung itu. Karena Annisa sangat ingin memiliki kalung itu, Annisa pun menuruti kata ibunya.

Annisa sangat senang dibelikan kalung mutiara itu.  Karena itu, ia pun selalu mamakianya setiap hari. Tapi ia juga selalu diingatkan oleh ibunya, bahwa jika ia memakai kalung itu setiap hari, termasuk saat mandi, lehernya akan berwarna hijau karena kalung itu adalah mutiara palsu. Tapi Annisa tidak peduli, ia sudah terlanjur sayang pada kalung itu. Ia tetap memakainya setiap waktu.

Suatu hari, Ayahnya baru pulang bekerja dan menghampiri Annisa. Ia menanyakan pada Annisa apakah ia sayang pada ayahnya. Annisa pun menjawab ia saying pada ayahnya. Lalu ayahnya meminta kalung mutiara kesayangan Annisa untuk membuktikan rasa sayangnya, tapi Annisa tidak mau memberinya. Annisa malah menganjurkan ayahnya untuk mengambil boneka panda kesayangan Annisa juga. Ayahnya pun menurutinya. Ayahnya melakukan hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut, dan Annisa selalu tidak memperbolehkan ayahnya untuk mengambil kalungnya. Ia selalu menganjurkan ayahnya untuk mengambil barang-barang kesayangan Annisa yang lain. Ia sudah sangat menyayangi kalung mutiara palsunya itu. Walaupun leher Annisa juga telah berwarna kehijauan karena kalung itu. Tapi karena ia telah banyak mengorbankan barang-barang kesukaannya yang lain, ia pun menjadi sedih.

Sampai pada suatu hari, ketika ayah masuk ke kamar Annisa, ayahnya melihat Annisa sedang menangis di tepi tempat tidurnya. Ayahnya pun mendekatinya, seperti sudah mengerti Annisa pun mengatakan bahwa akhirnya ayahnya boleh mengambil kalung imitasi kesayangannya itu. Ayahnya pun mengambil kalung imitasi itu dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Lalu ayahnya mengambil sesuatu dari saku yang satunya lagi dan memberikannya pada Annisa. Ketika dibuka tangannya, Annisa melihat sebuah kalung mutiara yang sama persis dengan kalung imitasi kesayangannya dulu. Ayahnya pun mengatakan bahwa kalung mutiara yang beru diberikan pada Annisa itu adalah kalung untuk menggantikan kalung yang dulu, yang dapat membuat lehernya menjadi hijau karena palsu. Tapi kalung yang baru ini adalah kalung mutiara asli.

Demikianlah, sama halnya dengan Tuhan. Terkadang Dia meminta sesuatu kepada kita untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun terkadang kita bersikap seperti atau lebih dari   Annisa, terlalu menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga dan oleh karenanya kita jadi tidak ikhlas bila harus kehilangannya.

cerita inspirasi

Yuni Asnidar / A44100033 / Laskar 4

  1. Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Saat Ramadhan tahun 2010, saya mengalami sakit dalam beberapa hari. Saat itu kebetulan saya telah berada di asrama TPB-IPB, awalnya saya merasa tidak sanggup untuk menghadapinya karena untuk pertama kalinya saya merasakan sakit di bulan Ramadhan dan juah dari orang tua. Namun saya bertekad untuk tetap bertahan sampai saya bertemu orang tua saya. Saya pun sanagat bersyukur karena teman-teman saya di asrama selalu memberi saya dukungan dan perhatian selama saya sakit.

Ketika saya mempunyai waktu untuk pulang ke rumah, saya meminta kepada ibu saya untuk mengantar saya ke dokter. Saat itu saya dan ibu saya pergi ke dokter umum selepas maghrib, dan kami harus merelakan untuk tidak mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid. Jarak rumah kami ke dokter tersebut cukup jauh jika dilewati dengan berjalan kaki, namun cukup dekat jika dilewati dengan kendaraan. Ketika pergi, kami menggunakan angkutan umum.

Setelah selesai diperiksa oleh dokter dan menebus obat, kami pun pulang. Namun saya meminta kepada ibu saya untuk berjalan kaki saja saat pulang ke rumah. Kebetulan kami memang ingin membeli sesuatu di minimarket yang jaraknya tidak jauh dari tempat praktek dokter kami tadi. Jadi, ibu saya menyetujui agar kami pulang dengan berjalan kaki. Saat itu, keadaan saya sudah agak membaik, walau masih terasa sakit yang saya derita.

Ternyata perjalan pulang waktu itu memberikan saya pelajaran yang sangat berharga. Saat kami melewati sebuah rumah besar, di trotoarnya (rumah itu terletak di pinggir jalan, kami berjalan di sepanjang tepi jalan) duduk tiga orang anak kecil yang sedang memegang karung-karung dengan pakaian dan keadaan yang lusuh dan memprihatinkan. Bahkan ketika kami mendekat, ternyata ada lagi seorang anak yang paling kecil tengah tertidur pulas di trotoar itu. Kami sangat miris melihatnya. Betapa kurang beruntungnya mereka, seharusnya anak-anak seumuran mereka ada di dalam rumah dengan kedua orang tuanya dan menikmati hangatnya suasana keluarga. Tapi mereka harus bekerja dengan memulung barang bekas hingga malam hari. Kami tidak tahu dimana rumah mereka dan orang tua mereka, karena kami iba dan kebetulan kami mempunyai uang lebih, akhirnya kami memberikan beberapa lemnar uang pada mereka. Saya merasa malu, karena saya suka bermanja-manja pada orang tua, seperti saat sedang sakit itu, tapi ternyata masih banyak anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka. Mereka harus bekerja, mungkin untuk bermanja-manaj pada orang tua saja mereka tidak bisa. Hal ini membuat saya sadar bahwa kita harus banyak bersyukur, bagaimanapun keadaan kita.

Pelajaran berharga itu tidak berhenti samapai disitu. Ketika kami mulai memasuki gang rumah kami, saya melihat dua orang pria yang sedang berjalan perlahan di depan kami (saat itu habis hujan dan keadaan jalan banyak lubang sehingga banyak kubangan air dan kedua pria itu berusaha menghindari kubangan-kubangan air itu) dengan berdempetan dan saling berpegangan tangan. Awalnya saya merasa kurang suka melihatnya, karena saya berpikir dua orang pria yang berjalan saling berdempetan dan berpegangan tangan di malam hari  adalah pemandangan yang bisa menimbulkan pikiran-pikiran negative. Tetapi saya merasa sangat malu untuk kedua kalinya, ketika kami berjalan melewati mereka yang berjalan perlahan itu, saya melihat mereka dari depan dan ternyata kedua pria itu adalah penyandang tuna netra. Seketika saya beristighfar dalam hati, saya telah suudzan pada dua orang pria yang sedang saling membantu untuk bisa berjalan dengan baik. Mereka saling berpegangan dan jalan berdempetan di gelapnya malam dan berusaha untuk menghindari kubangan-kubangan air. Mereka begitu karena hanya satu orang yang membawa tongkat.

Saat itu saya merasa saya harus lebih banyak bersyukur dalam keadaan apapun, termasuk saat saya sedang sakit seperti waktu itu. Awalnya saya merasa banyak mengeluh saat sakit, tapi setelah melihat yang ada sepanjang  perjalan pulang dari dokter tersebut, saya merasa malu dan berdosa. Betapa banyaknya orang-orang yang kurang beruntung dan mereka tidak mudah menyerah dalam menghadapi hidup ini. Sedangkan saya yang baru mengalami sakit yang sebernarnya tidak terlalu parah, terlalu banyak mengeluh dan ingin bermanja-manja. Karena itu saya merasa perjalanan saya tadi telah menyadarkan saya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan selalu melihat sekeliling kita bahwa masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita.

  1. Cerita Inspirasi Berkenaan dengan Orang Lain

Seorang anak bernama Annisa, sedang pergi berbelanja bersama ibunya. Saat sedang di kasir, Annisa melihat sebuah kalung mutiara putih yang cantik. Ketika ia melihat dari dekat, tertera harga Rp 15.000,00. Memang, itu adalah kalung mutiara palsu. Ia pun meminta pada ibunya agar dibelikan kalung itu. Namun Annisa telah membeli sepasang kaus kaki bermotif bendera yang cantik. Setiap berbelanja, Annisa dan ibunya selalu berkomitmen agar tidak membeli barang-barang berlebihan. Jadi saat Annisa meminta pada ibunya untuk dibelikan kalung itu, ibunya mengatakan bahwa Annisa harus menaruh kaus kaki itu kembali, dan ia pun diizinkan untuk membeli kalung itu. Karena Annisa sangat ingin memiliki kalung itu, Annisa pun menuruti kata ibunya.

Annisa sangat senang dibelikan kalung mutiara itu.  Karena itu, ia pun selalu mamakianya setiap hari. Tapi ia juga selalu diingatkan oleh ibunya, bahwa jika ia memakai kalung itu setiap hari, termasuk saat mandi, lehernya akan berwarna hijau karena kalung itu adalah mutiara palsu. Tapi Annisa tidak peduli, ia sudah terlanjur sayang pada kalung itu. Ia tetap memakainya setiap waktu.

Suatu hari, Ayahnya baru pulang bekerja dan menghampiri Annisa. Ia menanyakan pada Annisa apakah ia sayang pada ayahnya. Annisa pun menjawab ia saying pada ayahnya. Lalu ayahnya meminta kalung mutiara kesayangan Annisa untuk membuktikan rasa sayangnya, tapi Annisa tidak mau memberinya. Annisa malah menganjurkan ayahnya untuk mengambil boneka panda kesayangan Annisa juga. Ayahnya pun menurutinya. Ayahnya melakukan hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut, dan Annisa selalu tidak memperbolehkan ayahnya untuk mengambil kalungnya. Ia selalu menganjurkan ayahnya untuk mengambil barang-barang kesayangan Annisa yang lain. Ia sudah sangat menyayangi kalung mutiara palsunya itu. Walaupun leher Annisa juga telah berwarna kehijauan karena kalung itu. Tapi karena ia telah banyak mengorbankan barang-barang kesukaannya yang lain, ia pun menjadi sedih.

Sampai pada suatu hari, ketika ayah masuk ke kamar Annisa, ayahnya melihat Annisa sedang menangis di tepi tempat tidurnya. Ayahnya pun mendekatinya, seperti sudah mengerti Annisa pun mengatakan bahwa akhirnya ayahnya boleh mengambil kalung imitasi kesayangannya itu. Ayahnya pun mengambil kalung imitasi itu dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Lalu ayahnya mengambil sesuatu dari saku yang satunya lagi dan memberikannya pada Annisa. Ketika dibuka tangannya, Annisa melihat sebuah kalung mutiara yang sama persis dengan kalung imitasi kesayangannya dulu. Ayahnya pun mengatakan bahwa kalung mutiara yang beru diberikan pada Annisa itu adalah kalung untuk menggantikan kalung yang dulu, yang dapat membuat lehernya menjadi hijau karena palsu. Tapi kalung yang baru ini adalah kalung mutiara asli.

Demikianlah, sama halnya dengan Tuhan. Terkadang Dia meminta sesuatu kepada kita untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun terkadang kita bersikap seperti atau lebih dari   Annisa, terlalu menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga dan oleh karenanya kita jadi tidak ikhlas bila harus kehilangannya.